
Muna Sayang, kita hidup seringkali tak bisa memilih sepi. Itu yang terjadi ketika Ummi hendak melahirkanmu.
Tempat dan suasana kelahiranmu dipilih sudah Ummi waktu itu. Di rumah, tak usah banyak diketahui orang. Cukup Abi, Ibu Bidan dan Ibu rumah kontrakan kita yang akan menemani. Tentu saja dengan iringan doa kakek, nenek, paman, bibi dan uwakmu yang jauh.
Namun, sepertinya sudah menjadi takdir kelahiranmu. Kau tidak bisa lahir mudah di Mukomuko, tidak bisa di rumah pertama kita. Bidan mengatakan: kau mesti lahir di Bengkulu, di kota yang jauh. Itu artinya, kelahiranmu tak bisa lagi di tempat sepi. Tidak cukup lagi tiga orang yang menemani. Abi dan Ummi harus dibantu banyak untuk membawamu lahir di Bengkulu. Kita pun jadi tak bisa menolak perhatian dan bantuan banyak orang.
Pesan dari peristiwa kelahiranmu nampaknya jelas sudah, Muna. Kau lahir atas bantuan banyak orang. Karena itu, hidupmu nanti harus memberi manfaat kepada banyak orang pula.
Tahukah kau, Sayang? Setelah kau lahir, doa-doa untukmu mengalir dari Aceh hingga Papua. Semua berharap, di samping harapan-harapan lain tentunya, agar kau menjadi anak shalihat. Ya, shalihat. Itu sudah menjadi kata mufakat yang merangkum harapan akan dirimu nanti.
Engkau mungkin masih terlalu muda untuk memahami makna shalihat. Sebagai pedoman sejak sekarang, kau bisa gunakan makna yang diajarkan oleh para guru Abi dan Ummi, bahwa shalih itu berpangkal dari iman kepada Tuhan dan berujung pada manfaat pada kemanusiaan. Bermula dari salimul aqidah dan berbuah pada nafi’un lighairihi. Kau pasti nanti akan hapal di luar kepala tentang sepuluh karakter pribadi shalih yang telah dirumuskan Hasan Al-Banna itu. Lebih dari itu, tentu, mudah-mudahan sepuluh karakter itu nyata tercermin di dirimu.
Kau juga perlu tahu Muna, kisah sederhana tentangmu di rumah bersalin. Ketika itu banyak orang yang membawa buah-buahan sebagai oleh-oleh untuk kita. Karena sangat banyak maka Abi membagi apel dan jeruk yang diberikan orang-orang itu kepada sesama tetangga bangsal. Ada empat keluarga ibu bersalin dan juga satu saudara (ia khusus diberi anggur) yang mendapat bingkisan buah-buahan itu. Di antara mereka ada yang berbeda iman dengan kita. Sungguh, Abi waktu itu berniat dan berdoa bahwa ini sedekahnya Muna dan mudah-mudahan Muna nanti jadi orang yang benar-benar suka memberi, meski dengan cara sederhana.
Begitulah Muna, kau lahir dengan segera mendengar adzan dan segera pula kau bisa bersedekah untuk sesama. Itu semua karena betapa inginnya kami agar kau benar-benar bisa shalihat, punya iman kuat dan memberi manfaat.
Muna Sayang, kami berharap namamu adalah pertanda semangat zaman. Nama yang menjadi pertanda bahwa orang-orang di sekitarmu, di zamanmu nanti, punya cita unggul. Mereka berlomba untuk menjadi unggul, seperti dirimu. Tapi bukan unggul dengan jalan culas dan menistakan yang lain. Unggul dengan cara memberi prestasi terbaik di bidangnya.
Sejak kau masih di kandungan, Abi sudah mengajarkan semboyan: pembelajar cepat, pekerja giat. Karena Abi yakin itulah elan yang bisa membuatmu unggul di segala zaman. Juga karena Abi ingin kau nanti besar dengan potensi akal dan kerja kerasmu. Abi ingin kau meneladani kakekmu, yang di Ciamis maupun yang di Lampung. Mereka bagi Abi dan Ummi adalah teladan dekat tentang kerja giat.
Ohya Muna, ketika kau masih di kandungan, Abi dan Ummi mengajakmu berkunjung ke Ranah Minang. Tempat dilahirkannya para ulama, bapak bangsa dan para pujangga. Imam Bonjol, Hatta, Hamka, Sjahrir, Natsir, Navis…
Sungguh, Abi ingin kau besar nanti jadi orang yang cinta ilmu, banyak berbuat untuk sesama dan menyukai sastra. Sebab, dengan ilmu yang kau punya, kau bisa mulia kini dan nanti, serta selamat dunia akhirat (seperti yang selalu kita pinta tiap hari). Dan jika kau banyak berbuat bagi sesama, maka namamu akan melampaui usiamu. Seperti mereka, para pahlawan dan orang-orang besar itu. Mereka menjadi abadi karena perbuatan mereka yang banyak untuk sesama. Kemudian sastra, bagi Abi ia adalah ekspresi keindahan yang jadi pertanda kelengkapan kemanusiaan kita.
Ya, Abi dan Ummi memahami, mungkin hidupmu nanti beda dengan kehidupan kami yang bisa membuat kami menyukai sastra. Kalaulah nanti kau tak menyukainya, paling tidak kau punya apresiasi yang cukup terhadapnya. Atau, kau punya ekspresi keindahan di tempat yang lain, di suara atau di rupa. Hingga hidupmu, apapun pilihan profesimu kelak, tidak kaku seperti batu.
Seperti cinta Abi dan Ummi untukmu, kami ingin kau hidup penuh cinta, penuh sangka baik dan jiwa besar. Seburuk dan sekotor apapun lingkunganmu nanti tak boleh jadi pembenar dirimu untuk larut kotor dan jadi pembenci. Abi ingin kau selalu bermental juara. Punya ruang jiwa yang luas untuk selalu berbuat baik dan menampung beda.
Muna sayang, apa yang Abi dan Ummi tulis di sini tak ada hendak untuk menjadi beban bagimu. Abi ingin kau besar sesuai bakat alamimu. Ini adalah harapan dan doa kami untukmu.
Cepatlah besar, Sayang. Cinta dan doa Abi-Ummi selalu untukmu…
Mukomuko, Awal Agustus 2008
Abi & Ummi