Saya membayangkan Sjahrir enam tahun sebelum 1 Pebruari 1942, di sebuah rumah tua di Banda Neira. Sejak ia datang sebagai orang buangan di pulau itu, ia tinggal di sana bersama Hatta. Sejak di hari pertama ia datang, ia sudah mulai bertemu dengan anak-anak. Ia akan mengunjungi teman atau tetangga, atau ia duduk di beranda rumah besar itu, dan ia akan menegur anak yang ia temui: “Hendak bermain? Hendak belajar?”
Saya membayangkan Sjahrir ketika itu: ia seorang hukuman yang berbahagia. Ia mengajar anak-anak itu dan teman mereka menulis, matematika, sejarah, cara makan yang sopan, dan entah apa lagi. Ia menyewa mesin jahit Singer dan menjahitkan pakaian Does dan Des, Lily dan Mimi, bahkan ia berlangganan majalah mode untuk mencari contoh pakaian anak-anak perempuan yang polanya hendak ia tiru. Ia seperti Bapak. Ia seperti Ibu. Ia memasak. Di sela-sela pekerjaan dalam rumah itu ia berenang bersama mereka, menyeberangi teluk, ke arah gunung api di seberang, yang cukup jauh…
Saya bayangkan Sjahrir: ia seorang yang tidak pernah berbicara ”bila-nanti-saya-bebas” di Banda Neira. ”Di sini benar-benar sebuah firdaus”, tulisnya di awal Juni 1936.
Sebuah kenang-kenangan yang ditulis Sal Tas, sahabatnya sejak muda di Belanda, menyebutkan kenapa demikian: di pulau itu, dalam pembuangan itu, Sjahrir bisa melampiaskan gairahnya dalam dua hal –– bermain dengan anak-anak dan mengajar.
–– Goenawan Mohamad, Setelah Revolusi Tak Ada Lagi, 2005.
Secara kebetulan, tulisan tentang Sjahrir itu kami dapatkan dalam buku yang kami beli sewaktu mengunjungi pameran buku di Jogja, dua minggu setelah kami menikah (Agustus 2007). Tulisan itu seolah memberi bekal mind set yang semestinya kami miliki ketika kami harus hidup di negeri yang jauh dari keramaian kota.
Kami berdua sebenarnya bukan berasal dari kota. Saya (Arsan) berasal dari desa, Kampung Nyukangharjo, Kecamatan Selagai Lingga (pemekaran dari Padang Ratu), Lampung Tengah. Istri saya pun juga dari tempat yang tidak bisa dibilang perkotaan, meski ada di ibukota kecamatan Panumbangan, Ciamis, Jawa Barat.
Tapi, paling tidak setelah kami kuliah, hiruk pikuk dan dinamika perkotaan akrab di kehidupan kami. Pergaulan, fasilitas, input informasi, dan pilihan-pilihan … bisa kami dapatkan dengan mudah. Apalagi, setahun terakhir sebelum menikah saya tinggal di Jakarta.
Kini kami tinggal di Mukomuko. Kabupaten baru yang mulai dikenal karena gempa. Negeri yang jauh, 7 jam dari Bengkulu, 7 jam pula dari Padang, dengan angkutan umum yang ada sekali saja dalam sehari (berangkat sore, pulang pagi). Negeri yang jika di ibukota kabupatennya kita tak memagari rumah kita maka di malam hari babi hutan akan bisa dilihat dari balik jendela dan di siang hari kerbau-sapi-kambing akan makan tanaman dan bunga kita karena warga belum terbiasa mengikat ternaknya. Kabupaten yang listriknya belum menjangkau semua kecamatan, yang selalu bergiliran mati 2 hari hidup 1 hari mati di kecamatan dan bisa lebih dari 24 jam mati di ibukota kabupatennya.
Meski ekonominya sudah beranjak maju akibat sawit dan banyak muncul orang-orang kaya baru, Mukomuko tentu masih sangat jauh dibandingkan dengan Jogja dan Jakarta tempat kami pernah hidup. Bahkan juga dengan desa tempat kami lahir, terutama dengan jaraknya yang jauh dari kota. Jika di Lampung kami hanya perlu waktu 2 jam sampai di kota Bandar Lampung, dan di Ciamis kami hanya perlu 2 jam sampai Bandung dan kurang setengah jam sampai Tasikmalaya, maka di Mukomuko kami perlu waktu seharian atau semalaman untuk sampai ke kota. Akibatnya, untuk mencapai rumah sakit dan USG saja kami harus ke Padang dan Bengkulu dengan waktu rata-rata tempuh 8 jam perjalanan. Perjalanan pun jadi mahal di ongkos dan banyak makan waktu.
Di jenak-jenak kehidupan kami, ketika kami berpikir betapa jauh (jarak dan ketertinggalan) tempat kami sekarang ini tinggal, kami selalu ingat cerita tentang Sutan Sjahrir.
Kami sekarang sudah punya konsensus tak tertulis: kami akan meneladani Sjahrir. Memang, Mukomuko tak sejauh Banda Neira (dari Jakarta), kami bukan orang sepenting Sjahrir yang pernah jadi perdana menteri. Dan kami juga tidak sedang menjalani hukuman. Namun, ada cara pikir Sjahrir yang bisa kami teladani: tak perlu menghabiskan energi untuk berpikir kembali atau ’bebas’ ke kota, salurkan energi dengan mengajar dan bermain dengan anak-anak. Jalani hidup di negeri terpencil dengan bahagia…
-Arsan-
Maret ’08
berikut salah satu cuplikan tulisan dari sjahrir di banda neira dan digoel:
http://kolomsejarah.wordpress.com/2008/04/25/soetan-sjahrir-di-kritiek-en-opbouw-pandanganja-terhadap-barat-dan-timur/
Ada catatan kecil dari Des Alwi tentang kenangan manisnya bersama Sutan Syahrir dan Mohammad Hatta selama 6 tahun pembuangan di Banda Neira. Des Alwi sendiri adalah anak angkat dari kedua tokoh tersebut di Banda Neira. Tulisan Des Alwi dapat dibaca di link berikut ini:
http://dpyoedha.multiply.com/journal/item/159/Bersama_Hatta
_dan_Sjahrir_oleh_Des_Alwi
Masa lalu merupakan cerminan masa depan. Semoga bermanfaat.