Feeds:
Pos
Komentar

Surat untuk Muna

Muna di Blog

Muna Sayang, kita hidup seringkali tak bisa memilih sepi. Itu yang terjadi ketika Ummi hendak melahirkanmu.

Tempat dan suasana kelahiranmu dipilih sudah Ummi waktu itu. Di rumah, tak usah banyak diketahui orang. Cukup Abi, Ibu Bidan dan Ibu rumah kontrakan kita yang akan menemani. Tentu saja dengan iringan doa kakek, nenek, paman, bibi dan uwakmu yang jauh.

Namun, sepertinya sudah menjadi takdir kelahiranmu. Kau tidak bisa lahir mudah di Mukomuko, tidak bisa di rumah pertama kita. Bidan mengatakan: kau mesti lahir di Bengkulu, di kota yang jauh. Itu artinya, kelahiranmu tak bisa lagi di tempat sepi. Tidak cukup lagi tiga orang yang menemani. Abi dan Ummi harus dibantu banyak untuk membawamu lahir di Bengkulu. Kita pun jadi tak bisa menolak perhatian dan bantuan banyak orang.

Pesan dari peristiwa kelahiranmu nampaknya jelas sudah, Muna. Kau lahir atas bantuan banyak orang. Karena itu, hidupmu nanti harus memberi manfaat kepada banyak orang pula.

Tahukah kau, Sayang? Setelah kau lahir, doa-doa untukmu mengalir dari Aceh hingga Papua. Semua berharap, di samping harapan-harapan lain tentunya, agar kau menjadi anak shalihat. Ya, shalihat. Itu sudah menjadi kata mufakat yang merangkum harapan akan dirimu nanti.

Engkau mungkin masih terlalu muda untuk memahami makna shalihat. Sebagai pedoman sejak sekarang, kau bisa gunakan makna yang diajarkan oleh para guru Abi dan Ummi, bahwa shalih itu berpangkal dari iman kepada Tuhan dan berujung pada manfaat pada kemanusiaan. Bermula dari salimul aqidah dan berbuah pada nafi’un lighairihi. Kau pasti nanti akan hapal di luar kepala tentang sepuluh karakter pribadi shalih yang telah dirumuskan Hasan Al-Banna itu. Lebih dari itu, tentu, mudah-mudahan sepuluh karakter itu nyata tercermin di dirimu.

Kau juga perlu tahu Muna, kisah sederhana tentangmu di rumah bersalin. Ketika itu banyak orang yang membawa buah-buahan sebagai oleh-oleh untuk kita. Karena sangat banyak maka Abi membagi apel dan jeruk yang diberikan orang-orang itu kepada sesama tetangga bangsal. Ada empat keluarga ibu bersalin dan juga satu saudara (ia khusus diberi anggur) yang mendapat bingkisan buah-buahan itu. Di antara mereka ada yang berbeda iman dengan kita. Sungguh, Abi waktu itu berniat dan berdoa bahwa ini sedekahnya Muna dan mudah-mudahan Muna nanti jadi orang yang benar-benar suka memberi, meski dengan cara sederhana.

Begitulah Muna, kau lahir dengan segera mendengar adzan dan segera pula kau bisa bersedekah untuk sesama. Itu semua karena betapa inginnya kami agar kau benar-benar bisa shalihat, punya iman kuat dan memberi manfaat.

Muna Sayang, kami berharap namamu adalah pertanda semangat zaman. Nama yang menjadi pertanda bahwa orang-orang di sekitarmu, di zamanmu nanti, punya cita unggul. Mereka berlomba untuk menjadi unggul, seperti dirimu. Tapi bukan unggul dengan jalan culas dan menistakan yang lain. Unggul dengan cara memberi prestasi terbaik di bidangnya.

Sejak kau masih di kandungan, Abi sudah mengajarkan semboyan: pembelajar cepat, pekerja giat. Karena Abi yakin itulah elan yang bisa membuatmu unggul di segala zaman. Juga karena Abi ingin kau nanti besar dengan potensi akal dan kerja kerasmu. Abi ingin kau meneladani kakekmu, yang di Ciamis maupun yang di Lampung. Mereka bagi Abi dan Ummi adalah teladan dekat tentang kerja giat.

Ohya Muna, ketika kau masih di kandungan, Abi dan Ummi mengajakmu berkunjung ke Ranah Minang. Tempat dilahirkannya para ulama, bapak bangsa dan para pujangga. Imam Bonjol, Hatta, Hamka, Sjahrir, Natsir, Navis…

Sungguh, Abi ingin kau besar nanti jadi orang yang cinta ilmu, banyak berbuat untuk sesama dan menyukai sastra. Sebab, dengan ilmu yang kau punya, kau bisa mulia kini dan nanti, serta selamat dunia akhirat (seperti yang selalu kita pinta tiap hari). Dan jika kau banyak berbuat bagi sesama, maka namamu akan melampaui usiamu. Seperti mereka, para pahlawan dan orang-orang besar itu. Mereka menjadi abadi karena perbuatan mereka yang banyak untuk sesama. Kemudian sastra, bagi Abi ia adalah ekspresi keindahan yang jadi pertanda kelengkapan kemanusiaan kita.

Ya, Abi dan Ummi memahami, mungkin hidupmu nanti beda dengan kehidupan kami yang bisa membuat kami menyukai sastra. Kalaulah nanti kau tak menyukainya, paling tidak kau punya apresiasi yang cukup terhadapnya. Atau, kau punya ekspresi keindahan di tempat yang lain, di suara atau di rupa. Hingga hidupmu, apapun pilihan profesimu kelak, tidak kaku seperti batu.

Seperti cinta Abi dan Ummi untukmu, kami ingin kau hidup penuh cinta, penuh sangka baik dan jiwa besar. Seburuk dan sekotor apapun lingkunganmu nanti tak boleh jadi pembenar dirimu untuk larut kotor dan jadi pembenci. Abi ingin kau selalu bermental juara. Punya ruang jiwa yang luas untuk selalu berbuat baik dan menampung beda.

Muna sayang, apa yang Abi dan Ummi tulis di sini tak ada hendak untuk menjadi beban bagimu. Abi ingin kau besar sesuai bakat alamimu. Ini adalah harapan dan doa kami untukmu.

Cepatlah besar, Sayang. Cinta dan doa Abi-Ummi selalu untukmu…

Mukomuko, Awal Agustus 2008

Abi & Ummi

Sjahrir di Banda Neira


Saya membayangkan Sjahrir enam tahun sebelum 1 Pebruari 1942, di sebuah rumah tua di Banda Neira. Sejak ia datang sebagai orang buangan di pulau itu, ia tinggal di sana bersama Hatta. Sejak di hari pertama ia datang, ia sudah mulai bertemu dengan anak-anak. Ia akan mengunjungi teman atau tetangga, atau ia duduk di beranda rumah besar itu, dan ia akan menegur anak yang ia temui: “Hendak bermain? Hendak belajar?”

Saya membayangkan Sjahrir ketika itu: ia seorang hukuman yang berbahagia. Ia mengajar anak-anak itu dan teman mereka menulis, matematika, sejarah, cara makan yang sopan, dan entah apa lagi. Ia menyewa mesin jahit Singer dan menjahitkan pakaian Does dan Des, Lily dan Mimi, bahkan ia berlangganan majalah mode untuk mencari contoh pakaian anak-anak perempuan yang polanya hendak ia tiru. Ia seperti Bapak. Ia seperti Ibu. Ia memasak. Di sela-sela pekerjaan dalam rumah itu ia berenang bersama mereka, menyeberangi teluk, ke arah gunung api di seberang, yang cukup jauh…

Saya bayangkan Sjahrir: ia seorang yang tidak pernah berbicara ”bila-nanti-saya-bebas” di Banda Neira. ”Di sini benar-benar sebuah firdaus”, tulisnya di awal Juni 1936.

Sebuah kenang-kenangan yang ditulis Sal Tas, sahabatnya sejak muda di Belanda, menyebutkan kenapa demikian: di pulau itu, dalam pembuangan itu, Sjahrir bisa melampiaskan gairahnya dalam dua hal –– bermain dengan anak-anak dan mengajar.

–– Goenawan Mohamad, Setelah Revolusi Tak Ada Lagi, 2005.

Secara kebetulan, tulisan tentang Sjahrir itu kami dapatkan dalam buku yang kami beli sewaktu mengunjungi pameran buku di Jogja, dua minggu setelah kami menikah (Agustus 2007). Tulisan itu seolah memberi bekal mind set yang semestinya kami miliki ketika kami harus hidup di negeri yang jauh dari keramaian kota.

Kami berdua sebenarnya bukan berasal dari kota. Saya (Arsan) berasal dari desa, Kampung Nyukangharjo, Kecamatan Selagai Lingga (pemekaran dari Padang Ratu), Lampung Tengah. Istri saya pun juga dari tempat yang tidak bisa dibilang perkotaan, meski ada di ibukota kecamatan Panumbangan, Ciamis, Jawa Barat.

Tapi, paling tidak setelah kami kuliah, hiruk pikuk dan dinamika perkotaan akrab di kehidupan kami. Pergaulan, fasilitas, input informasi, dan pilihan-pilihan … bisa kami dapatkan dengan mudah. Apalagi, setahun terakhir sebelum menikah saya tinggal di Jakarta.

Kini kami tinggal di Mukomuko. Kabupaten baru yang mulai dikenal karena gempa. Negeri yang jauh, 7 jam dari Bengkulu, 7 jam pula dari Padang, dengan angkutan umum yang ada sekali saja dalam sehari (berangkat sore, pulang pagi). Negeri yang jika di ibukota kabupatennya kita tak memagari rumah kita maka di malam hari babi hutan akan bisa dilihat dari balik jendela dan di siang hari kerbau-sapi-kambing akan makan tanaman dan bunga kita karena warga belum terbiasa mengikat ternaknya. Kabupaten yang listriknya belum menjangkau semua kecamatan, yang selalu bergiliran mati 2 hari hidup 1 hari mati di kecamatan dan bisa lebih dari 24 jam mati di ibukota kabupatennya.

Meski ekonominya sudah beranjak maju akibat sawit dan banyak muncul orang-orang kaya baru, Mukomuko tentu masih sangat jauh dibandingkan dengan Jogja dan Jakarta tempat kami pernah hidup. Bahkan juga dengan desa tempat kami lahir, terutama dengan jaraknya yang jauh dari kota. Jika di Lampung kami hanya perlu waktu 2 jam sampai di kota Bandar Lampung, dan di Ciamis kami hanya perlu 2 jam sampai Bandung dan kurang setengah jam sampai Tasikmalaya, maka di Mukomuko kami perlu waktu seharian atau semalaman untuk sampai ke kota. Akibatnya, untuk mencapai rumah sakit dan USG saja kami harus ke Padang dan Bengkulu dengan waktu rata-rata tempuh 8 jam perjalanan. Perjalanan pun jadi mahal di ongkos dan banyak makan waktu.

Di jenak-jenak kehidupan kami, ketika kami berpikir betapa jauh (jarak dan ketertinggalan) tempat kami sekarang ini tinggal, kami selalu ingat cerita tentang Sutan Sjahrir.

Kami sekarang sudah punya konsensus tak tertulis: kami akan meneladani Sjahrir. Memang, Mukomuko tak sejauh Banda Neira (dari Jakarta), kami bukan orang sepenting Sjahrir yang pernah jadi perdana menteri. Dan kami juga tidak sedang menjalani hukuman. Namun, ada cara pikir Sjahrir yang bisa kami teladani: tak perlu menghabiskan energi untuk berpikir kembali atau ’bebas’ ke kota, salurkan energi dengan mengajar dan bermain dengan anak-anak. Jalani hidup di negeri terpencil dengan bahagia…

-Arsan-

Maret ’08

Boleh ya, aku bercerita tentang seorang sahabat kami (tepatnya sahabat, saudara, kakak tingkatku waktu kuliah di FH; yang akhirnya kuperkenalkan lewat cerita-ceritaku tentangnya pada Mas Ar yang tampak langsung welcome dan penasaran nian dengan sosok sahabatku itu)..

Sosok unik yang seumur2 baru kutemukan di dunia ini (sampai detik ini aku masih berfikir…ada ya, orang seperti ini di dunia?…jawabannya, ya tentu saja ada. Siapa??..ya, dia J)

Sosok keturunan Minang tulen yang baru 1 tahunan ini diterima di Kejaksaan dan ditempatkan di Kejaksaan Batu Sangkar. Pandai bergaul (tua, muda, perempuan, laki-laki, anak kecil apalagi…karena dia bisa dibilang master dalam dunia TPA ), pemuda mesjid yang rajin ikut liqo juga, ustadz muda yang diakui minimal di kantor & sekitarnya, seniman rupa (lukis, dekor, kaligrafi, etc), pandai berpantun dan membuat syair puisi, jago meniup seruling Padang, pandai mendongeng, dengan suara yang khas suara dan logat orang2 Minang kebanyakan yang enak didengar kalo bersenandung bahkan baca al qur’an.

Dari sekian kelebihannya, satu hal besar yang aku teladani…menjaga silaturrahim. Aku tahu, sahabatku itu mempunyai banyak teman bahkan mungkin semua merasa nyaman berinteraksi dengannya sehingga merasa layak menyebutnya seorang sahabat. Sampai semua teman-teman yang mengenalnya telah terpisah oleh jarak bahkan sudah berbeda dunia dengannya sekalipun, dia masih selalu rajin menjaga kontak. Dan…dia tetap dengan dirinya yang dulu dikenal orang2.

Semua bisa seperti itu adalah karena dia bersikap apa adanya. Dengan segala kepolosan, canda, bahkan nasihat2nya yang subhanallah karena selalu dikemas dalam syair atau mengutip banyak hadits yang dipelajarinya. Aku yang dari sejak belum pernah berinteraksi dengan orang Padang langsung( hanya lewat karya2 penulis2 besarnya lewat novel2 atau epik2 mereka seperti STA( yang pertama kali membuatku jatuh cinta dengan novel2 era poestaka baru itu ), Armyn Pane, Abdul Muis dengan Salah Asuhan-nya, etc…) Ketika banyak berinteraksi dengannya semakin tau kekentalan adat, logat bicara…ya, serasa secara implisit ada sebuah pemberitahuan..bahwa aku adalah orang Padang.

Sekali lagi, aku ingin belajar darinya yang bisa dengan mudah menjaga hubungan baik dan silaturrahim dengan banyak teman, bahkan adik tingkat maupun kakak tingkatnya khususnya sewaktu kuliah dulu (aku gatau dengan teman2 sepermainannya atau teman2 sekolahnya di masa dulu)..laki2 maupun perempuan..

Ya, semua orang mesti bermanfaat bagi orang di sekitarnya dengan menyandang hakikat sebagai makhluk sosial. Cuma semua tentunya gakkan pernah lepas dari karakter dasar masing2 tuk bisa diterima dan menerima satu sama lain. So, sekecil apapun itu, pastikan diri kita bermanfaat bagi setidaknya orang2 di sekitar kita dulu. Semoga sahabatku (kini ; sudah menjadi sahabat kami) senantiasa mendapat yang terbaik dan kebhagiaan dalam hidupnya (Kalo kata Mas Ar, inti kebahagiaan manusia adalah sukses di dunia & akhirat, Da)

 

Pesan buat sahabat kami :

          “Istiqomah, Bro…Tak ada gading yang tak retak. Tak ada kisah hidup yang sempurna. Sampai kita berusaha senantiasa berbuat yang terbaik dan cukuplah yang terbaik…” (Rumah kontrakanku, 10. 15 @ 14 Feb’08)

 

-Lina-

Catatan-Catatan Kecil

Malam Senin, 10 Februari’08

 

Bingung menu makan malam, tiba-tiba inget masa-masa di yogya…makan nasi, lalap,  lauknya telor bakar di bakarannya Pak Sabar depan kopma UNY. Hmmm…jadi dapet ide. So, malam itu kami makan malam menu referensi kota gudeg tempat penuh kenangan tersendiri buat kami. Oya, tak lupa Mas Ar bikinin minuman jeruk anget…klop deh!! Jadi makin serasa masih di jokja. Kapan lagi, ya menjelajahi kota indah tempat yang secara tidak langsung mempertemukan kami….

Sabtu, 3 Februari ’08 & Ahad

 

Malam yang melelahkan, pulang ngikut Mas Ar ke Penarik. Beliau ngisi liqo bapak2 dan ibu2 disana setiap sabtu siang sampai maghrib. Habis Isya aku langsung lena dalam lelap. Jam 23.00an Mas Ar yang sudah beberapa malam begadang ngerjain tugas kantornya, membangunkanku..” Susu ibu hamil sama vitamin dan obat penambah darahnya diminum dulu, sayang…” Males dan setengah mengantuk aku mengikuti titahnya. Gimana nggak, semua dah disiapin Mas Ar disampingku. Glek-glek…aku minum vitamin, obat plus susunya, and then…tidur lagi deh…

Tiba-tiba hpku berdering. Duuh…siapa sih malem2 begini. Ganggu orang tidur aja. Kutatap sekilas layar Hpku..hoaam…rasa kantuk lebih menyergapku, akhirnya aku cuekin juga si penelepon gatau waktu itu…

 

Bada subuh penasaran kulihat layar hp. 3x miscall, 1 pesan. Ani&Inen yang miscall. Pesannya dari Ani. Duo konco liqoku sewaktu di Yogya.

 

-Lina-

Hadiah dari adik kami Wishnu Wirawan

(Jazakallah khairan…)

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

[1]. MENGAJARKAN ILMU AGAMA
Di antara hak seorang isteri yang harus dipenuhi suaminya adalah memberikan pendidikan dan pengajaran dalam perkara agama. Dengan memahami dan mengamalkan agamanya, seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman.

“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrim : 6]

Menjaga keluarga dari api neraka mengandung maksud menasihati mereka agar taat, bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan mentauhidkan-Nya serta menjauhkan syirik, mengajarkan kepada mereka tentang syari’at Islam, dan tentang adab-adabnya. Para Shahabat dan mufassirin menjelaskan tentang tafsir ayat tersebut sebagai berikut:

1. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Ajarkanlah agama kepada keluarga kalian, dan ajarkan pula adab-adab Islam.”

2. Qatadah rahimahullaah berkata, “Suruh keluarga kalian untuk taat kepada Allah! Cegah mereka dari berbuat maksiyat! Hendaknya mereka melaksanakan perintah Allah dan bantulah mereka! Apabila kalian melihat mereka berbuat maksiyat, maka cegah dan laranglah mereka!”

3. Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullaah berkata: “Ajarkan keluarga kalian untuk taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang (hal itu) dapat menyelamatkan diri mereka dari api Neraka.”

4. Imam asy-Syaukani mengutip perkataan Ibnu Jarir: “Wajib atas kita untuk mengajarkan anak-anak kita Dienul Islam (agama Islam), serta mengajarkan kebaikan dan adab-adab Islam.” [1]

Untuk itulah, kewajiban seorang suami untuk membekali dirinya dengan thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu syar’i) dengan menghadiri majelis-majelis ilmu yang mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih -generasi yang terbaik, yang mendapat jaminan dari Allah-, sehingga dengan bekal tersebut dia mampu mengajarkannya kepada isteri dan keluarganya.

Jika ia tidak sanggup untuk mengajarkannya, hendaklah seorang suami mengajak isteri dan anaknya untuk bersama-sama hadir di dalam majelis ilmu yang mengajarkan Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih, mendengarkan apa yang disampaikan, memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan hadirnya suami-isteri di majelis ilmu akan menjadikan mereka sekeluarga dapat memahami Islam dengan benar, beribadah dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah ‘Azza wa Jalla semata serta senantiasa meneladani Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Insya Allah, hal ini akan memberikan manfaat dan berkah yang sangat banyak karena suami maupun isteri saling memahami hak dan kewajibannya sebagai hamba Allah.

Dalam kehidupan yang serba materialistis seperti sekarang ini, banyak suami yang melalaikan diri dan keluarganya. Berdalih mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, dia mengabaikan kewajiban yang lainnya. Seolah-olah dia merasa bahwa kewajibannya cukup hanya dengan memberikan nafkah berupa harta, kemudian nafkah batinnya, sedangkan pendidikan agama yang merupakan hal paling pokok justru tidak pernah dipedulikan.

Seringkali sang suami jarang berkumpul dengan keluarganya untuk menunaikan ibadah bersama-sama. Sang suami pergi ke kantor pada pagi hari ba’da Shubuh dan kembali ke rumahnya larut malam. Pola hidup seperti ini adalah pola hidup yang tidak baik. Tidak pernah atau jarang sekali ia membaca Al-Qur’an, kurang sekali memperhatikan isteri dan anaknya shalat, dan tidak memperhatikan pendidikan agama mereka sehari-hari. Bahkan pendidikan anaknya dia percayakan sepenuhnya kepada pendidikan di sekolah, dan bangga dengan sekolah-sekolah yang memungut biaya sangat mahal karena alasan harga diri. Ia merasa bahwa tugasnya sebagai orang tua telah ia tunaikan seluruhnya. Lantas bagaimana kita dapat mewujudkan anak yang shalih, sedangkan kita tahu bahwa salah satu kewajiban yang mulia seorang kepala rumah tangga adalah mendidik keluarganya. Sementara tidak bisa kita pungkiri juga bahwa pengaruh negatif dari lingkungan yang cukup kuat berupa media cetak dan elektronik seperti koran, majalah, tabloid, televisi, radio, VCD, serta peralatan hiburan lainnya sangat mudah mencemari pikiran dan perilaku sang anak. Bahkan media ini bisa menjadi orang tua ketiga, maka kita harus mewaspadai media-media yang ada dan alat-alat permainan yang sangat berpengaruh buruk terhadap perilaku anak-anak kita.

Oleh karena itu, kewajiban seorang suami harus memperhatikan pendidikan isteri dan anaknya, baik tentang tauhid, shalat, bacaan Al-Qur’annya, pakaiannya, pergaulannya, serta bentuk-bentuk ibadah dan akhlak yang lainnya. Karena Islam telah mengajarkan semua sisi kehidupan, kewajiban kita untuk mempelajari dan mengamalkannya sesuai Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Begitu pula kewajiban seorang isteri adalah membantu suaminya mendidik anak-anak di rumah dengan baik. Seorang isteri diperintahkan untuk tetap tinggal di rumah mengurus rumah dan anak-anak, serta menjauhkan diri dan keluarga dari hal-hal yang bertentangan dengan syari’at Islam.

[2]. MENASIHATI ISTERI DENGAN CARA YANG BAIK
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan agar berbuat baik kepada kaum wanita, berlaku lemah lembut dan sabar atas segala kekurangannya, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia
menyakiti tetangganya. Berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berwasiat-lah kepada wanita dengan kebaikan.” [2]

[3]. MENGIZINKANNYA KELUAR UNTUK KEBUTUHAN YANG MENDESAK
Di antara hak isteri adalah suami mengizinkannya keluar untuk suatu kebutuhan yang mendesak, seperti pergi ke warung, pasar dan lainnya untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Berdasarkan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sesungguhnya Allah telah mengizinkan kalian (para wanita) keluar (rumah) untuk keperluan (hajat) kalian.” [3]

Tetapi, keluarnya mereka harus dengan beberapa syarat, yaitu:

1. Memakai hijab syar’i yang dapat menutupi seluruh tubuh.
2. Tidak ikhtilath (berbaur) dengan kaum laki-laki.
3. Tidak memakai wangi-wangian (parfum).

Seorang suami pun dibolehkan untuk mengizinkan isterinya untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid apabila ketiga syarat di atas terpenuhi.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Apabila isteri salah seorang dari kalian meminta izin untuk pergi ke masjid, janganlah ia menghalanginya.” [4]

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Artinya : Janganlah kalian melarang para wanita hamba Allah mendatangi masjid-masjid Allah.” [5]

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa’dah 1427H/Desember 2006]
__________
Foote Note
[1]. Lihat Tafsiir ath-Thabari (XII/156-157) cet. Darul Kutub Ilmiyah, Tafsiir Ibnu Katsir (IV/412-413) cet. Maktabah Darus Salam dan Tafsiir Fat-hul Qadiir (V/253) cet. Darul Fikr.
[2]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5185-5186) dan Muslim (no. 1468 (62)), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.
[3]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5237), dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha.
[4]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5238), Muslim (no. 442 (134)), at-Tirmidzi (no. 570), an-Nasa-i (II/42) dan Ibnu Majah (no. 16), dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma.
[5]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 900), Muslim (no. 442 (136)), at-Tirmidzi (no. 570) dan an-Nasa-i (II/42), dari Shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma.

Hadiah dari adik kami Wishnu Wirawan

(Jazakallah khairan…)

Oleh

Abu Abdurrahman bin Abdurrahman Ash-Shabihi

Anjuran Berwasiat Kepada Calon Isteri

Anas mengatakan bahwasanya para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mempersembahkan (menikahkan) anak perempuan kepada calon suaminya, mereka memerintahkan kepadanya untuk berkhidmat kepada suami dan senantiasa menjaga hak suami.

Pesan Bapak Kepada Anak Perempuannya Saat Pernikahan
Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib mewasiatkan anak perempuannya, seraya berkata, “Jauhilah olehmu perasaan cemburu, karena rasa cemburu adalah kunci jatuhnya thalak. Juga jauhilah olehmu banyak mengeluh, karena keluh kesah menimbulkan kemarahan, dan hendaklah kamu memakai celak mata karena itu adalah perhiasan yang paling indah dan wewangian yang paling harum”.

Pesan Ibu Kepada Anak Perempuannya
Diriwayatkan bahwa Asma binti Kharijah Al-Farzari berpesan kepada anak perempuannya disaat pernikahannya, “Sesungguhnya engkau telah keluar dari sarang yang engkau tempati menuju hamparan yang tidak engkau ketahui, juga menuju teman yang engkau belum merasa rukun dengannya. Oleh karena itu jadilah engkau sebagai bumi baginya, maka dia akan menjadi langit untukmu. Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya ia akan menjadi tiang untukmu. Jadilah engkau hamba sahaya baginya, maka niscaya ia akan menjadi hamba untukmu. Janganlah engkau meremehkannya, karena niscaya dia akan membencimu dan janganlah menjauh darinya karena dia akan melupakanmu. Jika dia mendekat kepadamu maka dekatkanlah dirimu, dan jika dia menjauhimu maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya, dan matanya. Janganlah ia mencium sesuatu darimu kecuali wewangian dan janganlah ia melihatmu kecuali engkau dalam keadaan cantik. [1]

Pesan Amamah binti Harits Kepada Anak Perempuannya Saat Pernikahan.
Amamah bin Harits berpesan kepda anak perempuannya tatkala membawanya kepada calon suaminya, “Wahai anak perempuanku! Bahwasanya jika wasiat ditinggalkan karena suatu keistimewaan atau keturunan maka aku menjauh darimu. Akan tetapi wasiat merupakan pengingat bagi orang yang mulia dan bekal bagi orang yang berakal. Wahai anak perempuanku! Jika seorang perempuan merasa cukup terhadap suami lantaran kekayaan kedua orang tuanya dan hajat kedua orang tua kepadanya, maka aku adalah orang yang paling merasa cukup dari semua itu. Akan tetapi perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-lakai diciptakan untuk perempuan. Oleh karena itu, wahai anak perempuanku! Jagalah sepuluh perkara ini.

Pertama dan kedua : Perlakuan dengan sifat qana’ah dan mu’asyarah melalui perhatian yang baik dan ta’at, karena pada qan’aah terdapat kebahagiaan qalbu, dan pada ketaatan terdapat keridhaan Tuhan.

Ketiga dan keempat : Buatlah janji dihadapannya dan beritrospeksilah dihadapannya. Jangan sampai ia memandang jelek dirimu, dan jangan sampai ia mencium darimu kecuali wewangian.

Kelima dan keenam : Perhatikanlah waktu makan dan tenangkanlah ia tatkala tidur, karena panas kelaparan sangat menjengkelkan dan gangguan tidur menjengkelkan.

Ketujuh dan kedelapan : Jagalah harta dan keluarganya. Dikarenakan kekuasaan dalam harta artinya pengaturan keuangan yang bagus, dan kekuasaan dalam keluarga artinya perlakuan yang baik.

Kesembilan dan kesepuluh : Jangan engkau sebarluaskan rahasianya, serta jangan engkau langgar peraturannya. Jika engkau menyebarluaskan rahasianya berarti engkau tidak menjaga kehormatannya. Jika engkau melanggar perintahnya berarti engkau merobek dadanya. [2]

Bahwasanya keagungan baginya yang paling besar adalah kemuliaan yang engkau persembahkan untuknya, dan kedamaian yang paling besar baginya adalah perlakuanmu yang paling baik. Ketahuilah, bahwasanya engkau tidak merasakan hal tersebut, sehingga engkau mempengaruhi keinginannya terhadap keinginanmu dan keridhaannya terhadap keridhaanmu (baik terhadap hal yang engkau sukai atau yang engkau benci). Jauhilah menampakkan kebahagiaan dihadapannya jika ia sedang risau, atau menampakkan kesedihan tatkala ia sedang gembira.

Tatkala Ibnu Al-Ahwash membawa anak perempuannya kepada amirul mukminin Ustman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, dan orang tuanya telah memberinya nasihat, Ustman berkata, “Pondasi mana saja, bahwasanya engkau mengutamakan perempuan dari suku Quraisy, karena mereka adalah perempuan yang paling pandai memakai wewangian daripada engkau. Oleh karena itu perliharalah dua perkataan : Nikahlah dan pakailah wewangian dengan menggunakan air hingga wangimu seperti bau yang ditimpa air hujan.

Ummu Mu’ashirah menasihati anak perempuannya dengan nasihat sebagai berikut (sungguh aku membuatnya tersenyum bercampur sedih): Wahai anakku.. engkau menerima untuk menempuh hidup baru… kehidupan yang mana ibu dan bapakmu tidak mempunyai tempat di dalamnya, atau salah seorang dari saudaramu. Dalam kehidupan tersebut engkau menjadi teman bagi suamimu, yang tidak menginginkan seorangpun ikut campur dalam urusanmu, bahkan juga daging darahmu. Jadilah istri untuknya wahai anakku, dan jadilah ibu untuknya. Kemudian jadikanlah ia merasakan bahwa engkau adalah segala-galanya dalam kehidupannya, dan segala-galanya di dunia.

Ingatlah selalu bahwasanaya laki-laki anak-anak atau dewasa memiliki kata-kata manis yang lebih sedikit, yang dapat membahagiankannya. Janganlah engkau membuatnya berperasaan bahwa dia menikahimu menyebabkanmu merasa jauh dari keluarga dan sanak kerabatmu. Sesungguhnya perasaan ini sama dengan yang ia rasakan, karena dia juga meninggalkan rumah orang tuanya, dan keluarga karena dirimu. Tetapi perbedaan antara dia dan kamu adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan perempuan selalu rindu kepada keluarga dan tempat ia dilahirkan, berkembang, besar dan menimba ilmu pengetahuan. Akan tetapi sebagai seorang isteri ia harus kembali kepada kehidupan baru. Dia harus membangun hidupnya bersama laki-laki yang menjadi suami dan perlindungannya, serta bapak dari anak-anaknya. Inilah duaniamu yang baru.

Wahai anakku, inilah kenyataan yang engkau hadapi dan inilah masa depanmu. Inilah keluargamu, dimana engkau dan suamimu bekerja sama dalam mengarungi bahtera rumah tannga. Adapun bapakmu, itu dulu. Sesungguhnya aku tidak memintamu untuk melupakan bapakmu, ibumu dan sanak saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu selamanya wahai buah hatiku. Bagaimana mungkin seorang ibu melupakan buah hatinya. Akan tetapi aku memintamu untuk mencintai suamimu dan hidup bersamanya, dan engkau bahagia dengan kehidupan berumu bersamanya.

Seorang perempuan berwasiat kepada anak perempuannya, seraya berkata, “Wahai anakku, jangan kamu lupa dengan kebersihan badanmu, karena kebersihan badanmu menambah kecintaan suamimu padamu. Kebersihan rumahmu dapat melapangkan dadamu, memperbaiki hubunganmu, menyinari wajahmu sehingga menjadikanmu selalu cantik, dicintai, serta dimuliakan di sisi suamimu. Selain itu disenangi keluargamu, kerabatmu, para tamu, dan setiap orang yang melihat kebersihan badan dan rumah akan merasakan ketentraman dan kesenangan jiwa”.

[Disalin dari buku Risalah Ilal Arusain wa Fatawa Az-Zawaz wa Muasyaratu An-Nisaa, Edisi Indonesia Petunjuk Praktis dan Fatwa Pernikahan, Penulis Abu Abdurrahman Ash-Shahibi,Penerbit Najla Press]
_________
FooteNote
[1]. Ahkamu An-Nisa karangan Ibnu Al-Jauzi hal.79
[2]. Ahkamu An-Nisa karangan Ibnu Al-Jauzi hal.80

sumber: www.almanhaj.or.id

Mohon Do’akan Kami…

Menikah

Lina Herlinawati, S.H.
binti Drs. Cece Arahman

dengan

Arsan Nurrokhman, S.Si.
bin Suseno Noyosemito (Alm.)

 

Akad Nikah:
Ahad, 5 Agustus 2007/ 21 Rajab 1428 H
Pukul 09.00 WIB
di Babakan RT 05 RW 06, Panumbangan,
Ciamis, Jawa Barat

 

Pernikahan adalah momen sakral untuk mengawali hidup yang baru. Kami berharap agar momen itu berjalan dengan banyak do’a dari orang tua, saudara, guru, tetangga, rekan kerja, sahabat dan teman-teman semua.

Karena itu, kami ingin mengabarkan pernikahan kami lewat berbagai sarana. Dengan harapan, semakin banyak yang tahu, maka akan semakin banyak pula do’a yang disampaikan kepada kami, meskipun tidak bisa hadir di walimah kami. Sehingga Allah memberkahi kami, dari mula hingga kami menjalani hidup berumah tangga nantinya..

Situs ini adalah gambaran visi dan cita kami, Mencipta Rumah Surga. Visi rumah tangga yang pernah digambarkan Nabi SAW dengan singkat tapi penuh makna: baiti jannati, rumahku adalah surgaku..

Do’akan kami agar bisa mewujudkan visi itu. Sehingga dari rumah tangga yang penuh berkah itu akan lahir kekuatan baru, manfaat baru, dan generasi baru. Sehingga dari hari ke hari, akan terus muncul generasi yang lebih baik dari kita untuk mengemban risalah-Nya. Amiin Yaa Mujibas Sailiin

 

Lina & Arsan